KEBUDAYAAN KABUPATEN MOROWALI

Kebudayaan Kabupaten Morowali terdiri dari berbagai tradisi dari berbagai suku seperti Mori, Bungku, dan suku pendatang lainnya, dengan ciri khas seperti Festival Bajo untuk mempromosikan budaya dan pariwisata Suku Bajo, tradisi Ndengu-Ndengu pada bulan Ramadhan yang menggunakan suara gong, serta program seperti "Morowali Berjamaah" yang bertujuan untuk meramaikan masjid dan nilai-nilai kebersamaan. 
Alat musik berikut ini digunakan di daerah kabupaten morowali:
A. Dengu-dengu
Dengu-dengu Awalnya, nama ini merupakan nama menara pengawas dan alat komunikasi di Kerajaan Bungku, yang kemudian berganti nama menjadi Dengu-dengu. Nada alat musik ini unik dan tidak memiliki pengaruh, tetapi pengaruh nilai-nilai budaya Dengu-dengu sangat kuat dalam perkembangan keagamaan dan keagamaan masyarakat di Morowali. 

B. Rebana, Gong, dan Gendang
Alat musik ini umum ditemukan dan digunakan untuk mengiringi Tari Luminda, sebuah tarian tradisional Bungku. Rebana menghasilkan suara yang energik, gong yang sakral, dan drum dengan ketukan yang membuat tarian ini penuh semangat. 
Kabupaten morowali juga terkenal akan raja raja nya yaitu:
•1672 - .... Kacili Lamboja
•.... - .... Sangiang Kinambuga
•.... - 1747 Kacili Surabi (meninggal 1747)
•1747 - .... Foajianto
•.... - .... Lamboja's Kacili
•.... - 1825 Kacili Papa (first time)
•1825 Ratu Boki Penesi (raja wanita Bungku)
•1825 - 1840 Kacili Dongke Kombi
•1840 - 1848 Kacili Papa (kedua kalinya)
•1848 - 1851 Sadek Kacili
•1851 - 1873 Kacili Laman
Perang Maluku 1873 - 1879
•1880 – 1884 Dewan Perwalian Bungku
•1884 - 1907 Kacili Laopeke
•1907 - 1922 Pangeran Abdul Wahab (w. 1925)
•1922 - 1925 H.Abdullah -(Afdeeling Sulawesi Tenggara)
•1925 - 1931 Ahmad Hadie (lahir 1884 - meninggal 1965)
•1931 - 1937 Abdul Razak
•1938 - 1950 Abdul Rabbie (lahir 1904 - meninggal 1974)

Ulasan